Pulang Berbadan Dua

- Jurnalis

Senin, 12 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dikte.id | Langit sore di Bandara Soekarno-Hatta tampak murung. Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan Sari, perempuan berusia dua puluh tujuh tahun yang baru saja dipulangkan dari Arab Saudi.

Tangannya menggenggam erat sebuah tas kain yang telah lusuh. Di dalamnya, ada sisa uang hasil kerja selama hampir empat tahun. Tapi bukan itu yang paling dia jaga. Perutnya yang membuncit lima bulan adalah rahasia yang lebih besar—dan lebih berat.

Sari melangkah pelan menuju pintu keluar. Matanya menatap kosong, tapi hatinya gaduh. Ia membayangkan wajah ibunya yang akan terkejut, mungkin marah, atau lebih buruk—tak mau mengakuinya sebagai anak lagi. Di kampungnya, perempuan hamil di luar nikah bukan sekadar aib, tapi bisa jadi akhir dari hidup sosial seseorang.

Empat tahun lalu, ia berangkat dengan seribu harapan. Anak sulung dari keluarga miskin, Sari nekad menerima tawaran menjadi pembantu rumah tangga di Riyadh. Ia ingin membantu membiayai sekolah adik-adiknya, memperbaiki rumah yang nyaris roboh, dan memberi ibunya kehidupan yang layak.

Di Riyadh, kenyataan langsung mencubitnya. Majikannya keras, kasar, dan menuntut. Sari hanya tidur tiga jam sehari, makan tak tentu, dan selalu dimarahi bila ada yang salah. Ia tak punya siapa-siapa—sampai Farid hadir.

Farid, supir asal Bangladesh yang bekerja untuk keluarga yang sama, sering menolongnya. Menyisihkan makanan, membawakan air minum, bahkan membela saat majikan marah. Dalam gelapnya dunia itu, Farid adalah satu-satunya cahaya.

Cinta tumbuh di balik pintu dapur, di balik tatapan diam, dan dalam bisikan-bisikan singkat saat bertemu di garasi. Mereka tak pernah berencana lebih. Tapi suatu malam, saat kesepian dan ketakutan memuncak, batas itu mereka langgar.

Hubungan mereka terbongkar. Farid diusir. Sari dikunci di kamar selama dua hari sebelum dipulangkan secara paksa oleh agen. Dan beberapa minggu kemudian, di asrama penampungan Jakarta, Sari tahu bahwa ia hamil.

Setibanya di rumah, ibunya berdiri terpaku di depan pintu. Bibirnya bergetar. “Kamu kenapa, Nak?”

Sari tak mampu menjawab. Ia hanya menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu dan menangis. Tangis itu tumpah, menyapu semua kata yang sulit ia ucapkan. Ibunya menangis pula, tapi tidak menolak. Tidak mengusir.

Hari-hari selanjutnya lebih sulit. Tetangga mulai berbisik-bisik. Ada yang menyindir di pasar, ada yang terang-terangan mencibir.
Tapi ibunya tetap berdiri di sisinya. Ketika Sari berkata, “Bu, aku bisa saja menggugurkan, tapi aku tak sanggup,” ibunya menjawab, “Kalau Tuhan masih memberi hidup, siapa kita yang berhak mengambil?”

Bayi itu lahir di sebuah bidan desa. Laki-laki, kulitnya terang, matanya sipit—mirip Farid. Sari memberinya nama Nurul Farhan, yang berarti “Cahaya Kegembiraan”.

Meski hidup tak mudah, Sari bangkit. Ia membuka warung kecil. Membuat keripik dan sambal kemasan. Sedikit demi sedikit, hasilnya cukup untuk hidup. Dan lambat laun, orang mulai melihatnya bukan sebagai perempuan yang “pulang berbadan dua”, tapi sebagai ibu tunggal yang kuat.

Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, Nur—yang kini berusia tiga tahun—berlari-lari kecil di halaman rumah sambil membawa layang-layang. Sari duduk di tangga kayu, menatapnya dengan mata basah tapi penuh syukur.

Ia tahu, hidupnya tak kembali seperti dulu. Tapi ia juga tahu, tidak semua orang mendapat kesempatan untuk menebus luka dan membangun kembali hidup dari reruntuhan.
Dan Sari, dengan segala luka dan keberanian, sudah memulainya. (RED)

Berita Terkait

Cinta di Balik Lembaran Koran 
Menanti Hadir Sang Buah Hati
Ijab yang Tertunda
Janda Muda Dinikahi Polisi
Pulang Tanpa Suara

Berita Terkait

Senin, 26 Mei 2025 - 15:41 WIB

Cinta di Balik Lembaran Koran 

Minggu, 18 Mei 2025 - 22:08 WIB

Menanti Hadir Sang Buah Hati

Sabtu, 17 Mei 2025 - 20:27 WIB

Ijab yang Tertunda

Selasa, 13 Mei 2025 - 19:58 WIB

Janda Muda Dinikahi Polisi

Senin, 12 Mei 2025 - 20:42 WIB

Pulang Berbadan Dua

Berita Terbaru

OPINI

Tokoh Sunda Yang Layak Menjadi Pahlawan Nasional

Rabu, 31 Des 2025 - 17:43 WIB