Dikte.id | Matahari baru saja condong ke barat saat Rini menutup warung kecilnya. Tangan-tangannya lelah, namun pikirannya lebih penat. Sejak Dimas, suaminya, meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan kerja di proyek tol, Rini menanggung semuanya sendiri. Anak semata wayangnya, Raka, yang baru berumur tujuh tahun, menjadi satu-satunya alasan ia masih bisa bertahan di tengah himpitan hidup dan desakan mulut-mulut usil tetangga.
Sebagai janda muda, hidup Rini tak pernah benar-benar damai. Ia dianggap terlalu cantik untuk sendiri, terlalu mandiri untuk disukai, dan terlalu kuat untuk dikasihani. Padahal, di balik senyum tipis dan wajah yang selalu ditenangkan bedak tipis, ada luka yang belum benar-benar sembuh.
Lalu datanglah Andika. Polisi baru yang dipindahkan ke desa itu karena insiden disiplin di tempat tugas lamanya. Orang bilang ia temperamental, tapi yang Rini lihat hanyalah seorang pria dengan sorot mata lelah dan kesepian yang tak jauh berbeda dari dirinya.
Andika sering mampir ke warung. Awalnya hanya membeli kopi dan rokok, namun kemudian mulai membantu memperbaiki genteng, membawakan beras, dan tanpa diminta, mulai membacakan buku cerita untuk Raka. Ia tidak banyak bicara soal masa lalunya, begitu pula Rini. Mungkin itu yang membuat keduanya saling mengerti—karena mereka tahu rasanya bicara pun tidak selalu melegakan.
Namun, tidak semua orang suka melihat dua luka mencoba saling menyembuhkan. Desas-desus mulai menyebar, menuduh Rini “memancing lelaki berseragam,” dan menuding Andika “mau enaknya saja dengan janda yang sudah mapan.”
Pada suatu malam, Rini mendapati warungnya dilempari batu. Di atas pintu, tertulis kata-kata hina dengan cat merah. Raka menangis ketakutan.
Andika datang malam itu. Tanpa seragam. Tanpa pistol. Ia hanya membawa pelukan dan mata yang berkaca.
“Maafkan aku, Rin,” katanya lirih. “Sejak aku dekat denganmu, dunia seolah ingin kita tetap menderita.”
Rini menatapnya lama. “Mereka bukan dunia. Mereka hanya segelintir suara yang takut melihat luka-luka ini sembuh.”
Lalu ia menangis—untuk pertama kalinya di hadapan seseorang sejak Dimas pergi.
Beberapa minggu kemudian, di balai desa yang sederhana, mereka menikah. Hanya sedikit yang datang. Tapi Raka berdiri di antara mereka, mengenakan kemeja putih kebesaran dan senyum kecil yang tak pernah terlihat sejak lama.
Ketika penghulu bertanya, “Apakah kamu bersedia…,” suara Rini gemetar namun tegas menjawab, “Saya bersedia.”
Bukan karena ia ingin melupakan masa lalunya, tapi karena ia akhirnya punya alasan untuk percaya bahwa bahagia pun bisa datang setelah luka, walau pelan dan tertatih. ***






















