SMART Membuka Jalan Baru bagi Keluarga dengan Anak Berkebutuhan Khusus

- Jurnalis

Selasa, 9 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDUNG, Dikte.id | Di sebuah ruangan hangat yang dipenuhi karya seni dan senyum penuh harapan, Selasa (9/12/2025), Galeri Dendy di Kampung Rancakihiang, Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek, menjadi saksi lahirnya sebuah inovasi yang lebih dari sekadar teknologi. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota itu, para orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus berkumpul membawa mimpi serta semangat baru untuk menyongsong masa depan.

Mimpi itu terwujud dalam sebuah platform digital bernama SMART (Small Business Management & Accounting Resource Tool)—sebuah website di alamat be-smart.id—yang dirancang untuk membantu keluarga dengan anak berkebutuhan khusus mengelola usaha mereka secara lebih sederhana, efisien, dan modern.

Peluncuran SMART merupakan hasil kolaborasi antara School of Business & Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dan komunitas Sound of Unique Lives (SOUL). Di balik layar, inisiatif ini turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) hingga akreditasi internasional AACSB. Hal ini menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan langkah nyata menuju pemberdayaan keluarga istimewa.

Acara ini juga menghadirkan sejumlah narasumber kompeten: Dr. Sylviana Maya Damayanti, ST., MBA, Arinda Mentari Putri, S.Farm, MSM, M.Si., serta Octaviani Ratnasari Santoso, S.Psi., M.B.A.

Bagi Dr. Sylviana Maya Damayanti, SMART bukan hanya alat pencatatan digital, tetapi wujud pengabdian dan kepedulian akademisi kepada kelompok masyarakat yang selama ini belum banyak terfasilitasi.

“Program ini adalah pengabdian yang secara khusus kami rancang untuk keluarga dengan anak berkebutuhan khusus—program yang baru pertama kalinya difokuskan pada kelompok ini,” ujarnya.

Dengan SMART, orang tua kini dapat mencatat pemasukan, pengeluaran, hingga seluruh transaksi usaha secara digital dan real time. Sesuatu yang sebelumnya hanya dilakukan secara manual di buku catatan, kini dapat diakses melalui ponsel mereka.

“Pencatatan keuangan adalah fondasi bisnis. Kami ingin membantu bisnis para orang tua agar tumbuh, kuat, dan memberdayakan lingkungan di sekitarnya,” tambahnya.

Di sela kegiatan, tampak interaksi hangat antara para narasumber dan anak-anak berkebutuhan khusus yang mengikuti sesi edukatif. Ada yang melukis, meronce, hingga membantu orang tua memajang karya usaha rumahan mereka.

Bagi Sylviana, momen-momen kecil tersebut memiliki makna mendalam.

“Anak-anak ini jenius. Mereka mau mencoba, mau belajar. Kami melihat potensi besar yang sayang sekali jika tidak difasilitasi,” ucapnya dengan nada haru.

Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tahun 2025 saja. Ke depan, SBM ITB bersama SOUL berencana menghadirkan inkubator bisnis khusus bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus—ruang belajar yang menghubungkan mereka dengan edukasi keuangan, pemasaran, hingga pengembangan produk.

“Ada yang bisa melukis, menari, memasak—bakat-bakat ini harus diasah. Kami ingin mereka tumbuh dan maju bersama orang tua mereka,” tuturnya.

Sylviana juga menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan pemerintah, terutama melalui pendanaan serta program kolaboratif yang melibatkan akademisi.

“Dukungan dari pemerintah sangat membantu kami. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus diperkuat ke depan,” ujarnya.

SMART sendiri dirancang untuk terus berkembang—tidak hanya sebagai platform pencatatan, tetapi juga pintu gerbang menuju kemandirian ekonomi bagi keluarga berkebutuhan khusus.

Peluncuran website SMART bukan sekadar peluncuran teknologi; ini adalah peluncuran harapan.
Harapan bahwa keluarga dengan anak berkebutuhan khusus kini memiliki akses, alat, dan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan mandiri. Bahwa mereka tidak hanya menerima bantuan, tetapi diberdayakan. Bahwa mereka bukan sekadar penonton perkembangan dunia digital, tetapi menjadi bagian di dalamnya.

Dengan langkah kecil namun penuh makna ini, SBM ITB dan SOUL membuktikan bahwa teknologi yang dibangun dengan hati mampu menjangkau lebih jauh—menyentuh keluarga, mimpi, dan masa depan. **

Berita Terkait

Kades Alamendah Apresiasi JUMBARA 2025, Siswa Dapat Pendidikan Kepemimpinan Sejak Dini
Puluhan Anak Ikuti Khitanan Massal GNPP 2 di Desa Baros Arjasari
Pisah Sambut Kalapas Sumedang, Ratri Handoyo Resmi Digantikan Agung Hascahyo
Sabet IGA Awards 2025, Sumedang Raih Penghargaan Bergengsi
Waduk Jatigede Terjaga: Kolaborasi TNI–Polri untuk Masa Depan
Bupati Bandung Usulkan Percepatan Regulasi dan Rekrutmen Guru ke Pemerintah Pusat
Inggit Garnasih; Pahlawan Wanita Sunda yang Terlupakan
Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman Diresmikan, Ikon Baru Kabupaten Bandung

Berita Terkait

Jumat, 19 Desember 2025 - 11:03 WIB

Kades Alamendah Apresiasi JUMBARA 2025, Siswa Dapat Pendidikan Kepemimpinan Sejak Dini

Rabu, 17 Desember 2025 - 11:01 WIB

Puluhan Anak Ikuti Khitanan Massal GNPP 2 di Desa Baros Arjasari

Senin, 15 Desember 2025 - 21:02 WIB

Pisah Sambut Kalapas Sumedang, Ratri Handoyo Resmi Digantikan Agung Hascahyo

Rabu, 10 Desember 2025 - 12:13 WIB

Sabet IGA Awards 2025, Sumedang Raih Penghargaan Bergengsi

Selasa, 9 Desember 2025 - 18:30 WIB

SMART Membuka Jalan Baru bagi Keluarga dengan Anak Berkebutuhan Khusus

Berita Terbaru

OPINI

Tokoh Sunda Yang Layak Menjadi Pahlawan Nasional

Rabu, 31 Des 2025 - 17:43 WIB