Tokoh Sunda Yang Layak Menjadi Pahlawan Nasional

- Jurnalis

Rabu, 31 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Kang Oos Supyadin SE MM, Pengurus Dewan Adat Kabupaten Garut (DAKG)


Garut | Beliau adalah Raden Adipati Aria (R.A.A.) Wiranatakusumah V adalah tokoh Sunda yang sangat layak menjadi Pahlawan Nasional Indonesia sebab memiliki rekam jejak pengabdiannya yang luar biasa, baik bagi tatar Sunda secara khusus maupun bagi Republik Indonesia secara keseluruhan yang dijalaninya mulai perjuangan, persiapan hingga terwujudnya kemerdekaan NKRI dan tak henti sampai di situ bahkan menata dan mengisi setelah bangsa dan negara Indonesia ini merdeka.

R.A.A. Wiranatakusumah V dengan nama kecilnya Rd. Muharam atau dikenal dengan julukan Dalem Haji lahir di Bandung, 23 November 1888 dan meninggal 22 Januari 1965, merupakan putra bangsawan Sunda keturunan Raja dari Kerajaan Timbanganten (sekarang Garut), yakni putra dari Rd Adipati Kusumahdilaga dengan RA Soekarsih.

Jalan pengabdian hidupnya menjadi aspek kunci yang menggarisbawahi kelayakannya beliau menjadi Pahlawan Nasional, diantaranya:

1. Menteri Dalam Negeri Pertama Republik Indonesia: Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, Wiranatakusumah V dipercaya menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pertama dalam Kabinet Presidensial. Dalam kapasitas ini, ia memainkan peran vital dalam mengkonsolidasikan pemerintahan daerah di seluruh Jawa untuk mendukung pemerintahan Republik yang baru berdiri, sebuah tugas raksasa mengingat tantangan awal kemerdekaan dan kedatangan kembali Sekutu. Perannya ini menunjukkan kepercayaan tinggi dari para pendiri bangsa, termasuk Soekarno dan Hatta, terhadap kapabilitas kepemimpinan dan loyalitasnya.
2. Wali Negara Pasundan dan Strategi Republiken: Salah satu babak paling menarik dalam sejarah hidupnya adalah ketika ia terpilih sebagai Wali Negara Pasundan, sebuah negara bagian federal yang dibentuk Belanda sebagai bagian dari upaya memecah Republik. Meskipun posisinya tampak kontroversial di permukaan, Wiranatakusumah V mewakili faksi Republiken yang melihat pembentukan Negara Pasundan sebagai strategi politik untuk mencegah Jawa Barat sepenuhnya terpisah dari pangkuan Republik Indonesia. Kemenangannya sebagai Wali Negara adalah kemenangan kaum republiken, dan pada akhirnya, peran sertanya yang krusial membantu membubarkan parlemen Pasundan boneka Belanda, menegaskan kembali loyalitas wilayah tersebut kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
3. Peran dalam BPUPK: Jauh sebelum kemerdekaan, beliau juga telah menunjukkan pemikiran kebangsaan yang mendalam. Dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada tanggal 29 Mei 1945, beliau menekankan pentingnya keselarasan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dan perlunya ‘rasa persatuan’ sebagai syarat utama berdirinya sebuah negara merdeka. Pidatonya ini mencerminkan visi kepemimpinan yang berlandaskan moral dan persatuan nasional.
4. Bupati Kharismatik dan Pelayan Rakyat: Sebelum terjun ke kancah nasional, ia dikenal sebagai Bupati Bandung yang menjabat sejak tahun 1921 hingga 1934. Di masa jabatannya, ia dikenal sebagai pemimpin yang mengabdi pada rakyat dan Sunda, melakukan berbagai inovasi dan pembangunan yang berdampak positif pada masyarakat luas.

Keturunan Kerajaan Timbanganten Garut Menjadi Pangagung (Bupati) Bandung

Hingga berakhirnya kekuasan Kompeni Belanda (VOC) pada akhir 1779, Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak, Citeureup atau sekarang dikenal dengan Dayeuh Kolot, selama itu Kabupaten Bandung diperintah secara turun temurun oleh 6 orang Bupati sebagaimana dijelaskan dibawah ini.

Tumenggung Wira Angun-Angun sebagai upati Pertama yang memerintah dari tahun 1641 sampai tahun 1681. Lima Bupati berikutnya adalah Tumenggung Ardikusumah yang memerintah tahun 1681-1704, Tumenggung Angadireja I (1704-1747), Tumenggung Anggadireja II (1747-1763), R. Anggadireja III dengan gelar R.A. Wiranatakusumah I (1763-1794) dan R. Adipati Wiranatakusumah II yang memerintah dari tahun 1794 hingga tahun 1892.

Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Wiranatakusumah II,Ibukota Kabupaten Bandung dengan alasan Krapyak tidak strategis sebagai Ibukota Pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir. R.A. Wiranatakusumah II adalah sebagai pendiri Kota Bandung tempo doeloe. Pemindahan Ibukota Bandung kelokasi baru merupakan peristiwa penting dan bersejarah,karena penentuan letak Ibukota Bandung mendekati Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang sarat dengan kepentingan penjajah Belanda (hal ini perlu untuk diketahui oleh sejarawan dan sebagai penelusuran sejarah yang selama ini tercatat bahwa penentuan lokasi Ibukota Bandung ditentukan oleh penjajah Belanda).

Konon R.A Wiranatakusumah II dalam menentukan lokasi untuk Ibukota ini tidaklah sembarangan dan pertimbangan-pertimbangan yang matang, dan bertafakur di pinggir Sungai Cikapundung yang dilakukan diantara dua sumur sisa Telaga Bandung, barulah memperoleh petunjuk penentuan lokasi Ibukota Bandung. Sekitar tahun 1808 atau awal tahun 1809, Bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekati lahan bakal Ibukota baru.

Mula-mula bupati bertempat tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti),kemudian pindah ke Balubur Hilir,selanjutnya pindah lagi ke Kampung Bogor(Kebon Kawung, Gedung Pakuan sekarang) dan terakhir R.A. Wiranata Kusumah II bersama rakyatnya membuka hutan bekas tempat mandi badak putih yang sekarang tempat berdirinya Pendopo Kota Bandung konon, bekas tempat mandi badak putih apabila dipergunakan untuk pemukiman akan menjadi tempat yang subur dan makmur.

Selama 18 tahun Bupati R.A. Wiranatakusumah II memimpin Ibukota yang baru. pada tahun 1829 beliu wafat. Sebagai penggantinya adalah putra sulungnya yang bergelar Wiranatakusumah III atau terkenal dengan Dalem Karanganyar atau sekitar Hotel Homann sekarang.

Karena kondisi kesehatan yang tidak baik R.A. Wiranatakusumah III mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 1846 dan digantikan oleh putra keempatnya bernama R. Suryakarta Adiningrat.

Setelah menjabat sebagai Bupati R. Suryakarta Adiningrat dianugrahi gelar Adipati Wiranatakusumah IV. Karena jasa-jasanya yang besar dalam pembangunan kota Bandung, antara lain memimpin pendirian Masjid Agung Bandung(1850) membuka Sekolah guru atau Kweek School (1866), mendirikan Sekolah Pangreh Praja yang bernama Opleiding School Voor Indladsche Ambtenaren (OSVIA), membantu dan mendorong Dr. Frans Willem Junghuhn untuk merintis dan mengembangkan penanaman pohon kina di dataran tinggi Bandung dan membangun Gedung Keresidenan yang kini dikenal sebagai Gedung Pakuan (tempat tinggal Gubernur) maka Bupati Adipati Wiranatakusumah IV mendapat julukan Dalem Bintang.

Dalem Bintang wafat tahun 1874 digantikan oleh saudaranya yang bernama R. Adipati Kusumahdilaga (1874-1893). Beliau tidak memakai gelar Wiranatakusumah kemungkinan karena Bupati yang digantikan bukan ayahnya melainkan saudaranya.

Pada tahun 1893 Bupati R.A. Adipati Kusumahdilaga meninggal dunia meninggalkan seorang putra, Rd. Muharam buah perkawinannya dengan R. Ayu Sukarsih, Rd. Muharam dilahirkan pada tanggal 23 November 1888.

Pada saat ayahnya meninggal dunia, R. Muharam tidak dapat langsung menggantikan kedudukan Bupati Bandung karena usianya pada saat itu baru 5 tahun, Pemerintah Hindia-Belanda mengangkat R.A.A Martanagara (1893-1918) (seorang bangsawan Sumedang) menjadi Bupati Bandung menggantikan Bupati R. Adipati Kusumahdilaga sampai R. Muharam cukup umur untuk menjabat sebagai Bupati Bandung. Oleh karena itu R.A.A. Martanegara mendapat julukan ” Dalem Panyelang.”

Setelah 3 tahun sepeninggal ayahnya, R. Muharam mengenyam pendidikan di Eropeensche lagere School (ELS) atau setingkat Sekolah Dasar tetapi bahasa pengantarnya mempergunakan bahasa Belanda. Selama bersekolah, R. Muharam dititipkan pada keluarga Belanda bernama Adams. Hal ini dimaksudkan agar R.Muharam mendapat pendidikan kedisiplinan dan dapat menyerap ilmu pengetahuan dari kebiasaan kehidupan keluarga Belanda.

R. Muharam menyelesaikan pendidikannya di ELS pada tahun 1910, lalu meneruskan ke OSVIA atau dikenal dengan Sakola Menak (bangsawan Sunda)selama tiga tahun. Di tempat ini R. Muharam yang terkenal dengan kecerdasan dan sifat pribadinya yang baik mendapat sponsor dan seorang warga Belanda, Snoux Hougronje, untuk masuk Hogore burger School (HBS) di Batavia. Karena sebagian politik Belanda pada saat itu maka tidak sembarang orang pribumi dapat masuk HBS.

Selama di Batavia, R. Muharam mendapat pendidikan bahasa Perancis, Inggeris dan Jerman. Maka selain Bahasa Belanda beliau menguasai ketiga bahasa tersebut.

Perjalanan karir R. Muharam dimulai setelah menyelesaikan sekolahnya di HBS selama 5 tahun. Dirintis sebagai juru tulis Camat Tanjungsari,Sumedang pada tahun 1910. Sejak itu namanya diganti menjadi R. Wiranatakusumah.

Satu tahun kemudian, R. Wiranatakusumah menjadi mantri Polisi Ciheulang, Sukabumi. Dan pada tahun 1912 beliau diangkat menjadi seorang camat Cibeureum, Tasikmalaya, pada tahun yang sama jejak karirnya berlanjut menjadi Bupati Cianjur tempo dulu (1912-1920) dan mendapat gelar Tumenggung. Pada saat itu R. Tumenggung Wiranatakusumah merupakan Bupati Bupati termuda dengan usia 24 tahun di seluruh Hindia-Belanda dengan prestasi dan pendidikan yang gemilang.

Berbagai prestasi R. Tumenggung Wiranatakusumah pada saat di Cianjur adalah pemberantasan penyakit malaria. Dengan cara pengeringan rawa-rawa dan menjadikannya ladang sawah, selain memutuskan mata rantai perkembangbiakan nyamuk malaria, Cianjur pun menjadi penghasil beras terbesar di Tanah Pasundan. Prestasi tersebut diabadikan pada sebuah tugu peringatan yang bisa kita lihat di daerah Cihea, Ciranjang, Cianjur.

Prestasi lain yang tak kalah pentingnya adalah menjadikan Cianjur sebagai daerah otonomi pertama pada tahun 1917, Dalam pidato sambutannya, R. Tumenggung Wiranatakusumah menyatakan “Kitalah yang mula-mula memperoleh kepercayaan yang maha penting ini,kitalah yang dipercobakan akan menjalankan perintah dengan menurut pikiran sendiri, yakni akan memajukan negeri dan memimpin rakyat kepada kemajuan dan kepada kesentosaan”.

Selain kedua prestasi tersebut, R. Tumenggung Wiranatakusumah juga mendukung pendirian Sekolah Kautamaan Istri yang dikelola R. Siti Jenab. Selama 8 tahun memerintah daerah Cianjur dengan prestasinya yang bisa dikatakan gemilang serta didukung oleh garis keturunan,maka R. Tumenggung Wiranatakusumah pada tahun 1920 diangkat menjadi Bupati Bandung menggantikan R.A.A. Martanagara yang mengajukan pensiunnya.

Keputusan pengangkatan tersebut berdasarkan surat keputusan dari Gubernur Jenderal J.P. Graaf van Limburg Stirum,dengan memperoleh gelar tambahan Adipati.

Pengangkatan R. Adipati Wiranatakusumah sebagai Bupati Bandung tempo doloe disambut oleh rakyat dengan upacara dan pesta yang meriah. Penyambutan oleh rakyat dengan hati yang lega dan gembira menggambarkan bahwa sosok Bupati R. Adipati Wiranatakusumah V mempunyai kedekatan emosional dengan rakyatnya,begitu juga sebaliknya.

Dengan berbasis kerakyatan yang berpihak untuk kesejahteraan rakyatnya,beliau kembali menelurkan prestsi-prestasi dengan membentuk koperasi-koperasi. Bekal pengetahuan koperasi didapat dari kunjungannya ke Negeri Belanda pada tahun 1928 dengan mempelajari salah satu koperasi yang bernama Boeren Leenbank atau Bank Koperasi para Petani.

Selain koperasi, R. Adipati Wiranatakusumah V juga bisa juga dibilang perintis pembentukan lembaga-lembaga yang mementingkan rakyatnya. Lembaga-lembaga tersebut antara lain ; Lembaga Bisu Tuli, Rumah Buta, Lembaga Bandoeng Vooruit, Kebun Binatang Jaarbeurs dan Bank Himpunan Saudara yang pengelolaannya dilakukan oleh orang Pribumi.

Dengan segudang prestasi yang berhasil diperoleh,maka beliau kembali mendapat gelar. Gelar tersebut adalah gelar Aria,sehingga lengkaplah sudah gelar yang disandangnya yaitu Raden Aria Adipati Wiranatakusumah (R.A.A.Wiranatakusumah).

Kesimpulan

Mengingat seluruh rekam jejak perjuangan, integritas moral, dan kontribusi nyata R.A.A. Wiranatakusumah V yang berdampak nasional sejak masa pra-kemerdekaan hingga berdirinya NKRI, sungguh sangatlah layak bagi beliau untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Kisah hidupnya mengajarkan kita tentang kepemimpinan yang adaptif, strategi perjuangan yang cerdas dalam menghadapi realitas politik yang kompleks, dan dedikasi tanpa pamrih untuk persatuan bangsa. Upaya pengusulan gelar pahlawan ini merupakan bentuk penghargaan yang pantas bagi seorang tokoh besar yang jejaknya dalam mendirikan Republik Indonesia tidak boleh terlupakan. ***

Berita Terkait

Menjaga Kredibilitas Kajian Terbaru Kapasitas Daerah (Kapasda) CDOB Garut Selatan
Kegiatan Saresehan Sebagai Langkah Strategis Untuk Mendorong Pemekaran Daerah
Sunda Lebih Dari Satu Abad Dalam Jajahan Budaya Mataram
Menggalang Filantropi Media Massa…
Inflasi “Hantu Lama” yang Berhasil Dijinakkan Bupati Bandung Lewat Dapur MBG
Masih Ada Guru “Killer” di Era 4.0
Rezim Presiden Siapa pun, Wartawan Harus Tetap Berpikir Kritis
Inisiasi Berani Bupati Bandung Siapkan Anak Muda Kabupaten Bandung Tembus Pasar Kerja Global, Siap Sambut Indonesia Emas

Berita Terkait

Rabu, 31 Desember 2025 - 17:43 WIB

Tokoh Sunda Yang Layak Menjadi Pahlawan Nasional

Selasa, 30 Desember 2025 - 11:24 WIB

Menjaga Kredibilitas Kajian Terbaru Kapasitas Daerah (Kapasda) CDOB Garut Selatan

Kamis, 25 Desember 2025 - 10:40 WIB

Kegiatan Saresehan Sebagai Langkah Strategis Untuk Mendorong Pemekaran Daerah

Rabu, 24 Desember 2025 - 14:42 WIB

Sunda Lebih Dari Satu Abad Dalam Jajahan Budaya Mataram

Minggu, 14 Desember 2025 - 10:13 WIB

Menggalang Filantropi Media Massa…

Berita Terbaru

OPINI

Tokoh Sunda Yang Layak Menjadi Pahlawan Nasional

Rabu, 31 Des 2025 - 17:43 WIB