Bandung,
- Pertarungan menuju kursi Ketua DPD APDESI Kabupaten Bandung periode 2026-2031 mulai memanas. Dua kandidat resmi mengantongi nomor urut dalam pengundian yang berlangsung di Kolam Renang Tirta Raya, Desa Cikoneng, Kecamatan Ciparay, Senin (2/11/2026). Kini, panggung demokrasi para kepala desa tinggal menunggu hari penentuan.
Muscab VI DPD APDESI Kabupaten Bandung dijadwalkan berlangsung Jumat (6/11/2026) di Gedung Mohammad Toha, Kabupaten Bandung. Dengan hadirnya dua kandidat, pemilihan dipastikan tidak berlangsung secara aklamasi. Sebuah pertarungan demokrasi yang akan menguji keberanian, independensi, dan pilihan politik organisasi para kepala desa.
Dua nama yang akan berhadapan adalah Ismawanto Somantri, S.H., S.Ip., Kepala Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, sebagai calon nomor urut 1, melawan H. Galih Hendrawan, Kepala Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, sebagai calon nomor urut 2.
Namun, yang membuat kontestasi kali ini menarik bukan sekadar siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Ada pesan yang lebih besar di balik pencalonan Ismawanto. Ia mengaku maju bukan untuk mengejar jabatan, melainkan untuk memastikan demokrasi di tubuh APDESI tidak berhenti pada formalitas aklamasi.
"Saya hanya ingin mengawal demokrasi dan menjembatani suara-suara kepala desa yang menginginkan pemilihan secara demokrasi bukan aklamasi.Jangan sampai aspirasi mereka tidak mendapatkan ruang. Ini bukan soal ambisi pribadi, tetapi soal hak setiap kepala desa untuk menentukan pilihannya," tegas Ismawanto.
Dengan nada lugas, Ismawanto bahkan menggambarkan pertarungan ini sebagai duel yang tidak seimbang. Ia menyebut dirinya hanya seekor burung Pipit yang berani menantang Elang. Sebuah perumpamaan yang menyiratkan adanya kesenjangan kekuatan antara dirinya dan kandidat lawan.
"Saya hanya seekor burung Pipit. Tidak punya kekuatan tim besar, tidak punya dukungan dari berbagai unsur. Saya hanya mengandalkan keberanian. Sementara di kubu sebelah, beliau ibarat burung Elang, dengan kekuatan yang luar biasa," ungkapnya.
Pernyataan tersebut seolah menjadi sindiran terbuka terhadap peta kekuatan yang berkembang menjelang pemilihan. Namun, Ismawanto menegaskan bahwa dirinya tidak sedang mengeluhkan keadaan. Ia justru ingin membuktikan bahwa keberanian untuk maju dan memberikan pilihan kepada anggota organisasi tidak harus selalu ditopang kekuatan besar.
Baginya, kemenangan memang menjadi harapan, tetapi kekalahan bukanlah kehinaan. Jika Pipit mampu mengalahkan Elang, tentu menjadi kejutan besar. Namun, jika hasilnya tidak sesuai harapan, ia mengaku sudah memahami risiko yang harus dihadapi. "Kalau saya ditakdirkan menang, itu sangat luar biasa, dan mungkin itu diluar nalar. Tetapi kalau kalah, tidak menjadi hal yang mengherankan. Semua orang mungkin sudah bisa membaca peta pertarungannya," ujarnya.
Tak berhenti di situ, Ismawanto juga menyinggung persoalan simbol warna yang mulai menjadi bagian dari dinamika pencalonan. Ia menyebut rivalnya identik dengan warna hijau, sementara dirinya memilih kuning sebagai pembeda. Ketika ditanya apakah warna tersebut berkaitan dengan warna partai politik, ia menjawab singkat, "Silakan saja tafsirkan masing-masing."
Pernyataan paling tajam justru muncul ketika Ismawanto mengungkapkan pengalamannya di grup WhatsApp para kepala desa. Ia mengaku heran karena unggahan foto pencalonannya nyaris tidak mendapatkan respons. Namun, ketika kandidat lawan muncul, suasana grup justru berubah dengan berbagai reaksi dan tanggapan.
"Ketika saya memposting foto di grup WhatsApp kepala desa, suasananya seperti diam, tidak ada respons. Tetapi ketika rival saya muncul, responsnya berbanding terbalik. Mereka terlihat begitu antusias. Ada apa sebenarnya? Apakah ada rasa ketakutan? Ketakutan yang penuh arti, tanda (") ungkapnya.
Pertanyaan tersebut kini menjadi salah satu bagian paling menarik menjelang Muscab VI APDESI Kabupaten Bandung. Apakah diam berarti tidak memiliki pilihan, sekadar menjaga sikap, atau ada pertimbangan lain yang membuat sebagian kepala desa enggan menunjukkan dukungan secara terbuka? Tentu hanya masing-masing kepala desa yang mengetahui alasan sebenarnya.
nanti, Jumat, 6 November 2026, di gedung Mohammad Toha kabupaten Bandung, akan menjadi hari pembuktian. Apakah Elang benar-benar terlalu kuat untuk ditandingi, atau justru Pipit mampu memberikan kejutan melalui suara-suara yang selama ini tidak terdengar?
Sebab, dalam demokrasi, suara yang diam di grup WhatsApp belum tentu sama dengan suara yang akan diberikan di bilik pemilihan. Dan pada akhirnya, bukan gemuruh dukungan di ruang percakapan yang menentukan pemenang, melainkan suara sah para kepala desa.
Pipit boleh kecil, tetapi hak suaranya sama dengan Elang. Itulah makna demokrasi yang sesungguhnya. *