Dikte.id | Paparan layar sejak usia sangat dini--terutama pada rentang 0 hingga 2 tahun--diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan di kemudian hari.
Selain itu, anak yang terlalu awal sering menggunakan gawai cenderung memiliki kemampuan mengambil keputusan yang lebih lambat dibandingkan dengan anak yang tidak terpapar secara berlebihan.
Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh tim dari National University of Singapore (NUS), KK Women's and Children's Hospital, serta A*STAR. Studi tersebut mengikuti sekitar 170 anak sejak lahir selama lebih dari 10 tahun dalam proyek GUSTO (Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes). Para peneliti melakukan pemindaian otak pada berbagai tahap perkembangan untuk melihat dampak jangka panjang dari paparan layar.
Hasilnya menunjukkan bahwa setiap tambahan satu jam waktu layar pada anak usia di bawah dua tahun berhubungan dengan penurunan kemampuan pengambilan keputusan hingga 25 persen saat anak berusia sekitar 8,5 tahun.
Dampak yang Muncul Saat Remaja
Ketika memasuki masa remaja, anak-anak yang terpapar layar sejak dini juga cenderung menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi, terlepas dari latar belakang sosial ekonomi mereka. Bentuk kecemasan ini bisa berupa rasa khawatir berlebihan, kecenderungan menghindari interaksi sosial, hingga gejala fisik seperti jantung berdebar dan gangguan tidur.
Peneliti utama, Asisten Profesor Tan Ai Peng, menjelaskan bahwa dampak ini dapat terlihat dalam situasi sehari-hari, misalnya anak membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil keputusan sederhana. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi prestasi akademik, hubungan sosial, hingga kinerja saat dewasa.
Lebih Berisiko Dibandingkan Paparan Televisi
Dampak negatif paparan gawai saat ini dinilai bisa lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya yang lebih banyak terpapar televisi. Hal ini karena anak-anak kini sudah memiliki akses ke perangkat seperti ponsel dan tablet sejak usia sangat muda, yang cenderung lebih interaktif dan adiktif.
Paparan berlebihan ini juga berpotensi memengaruhi kemampuan anak dalam menjalin hubungan interpersonal, karena keterampilan mengambil keputusan dan interaksi sosial saling berkaitan.
Cara Mengurangi Dampak Negatif
Meski demikian, dampak dari paparan layar sejak dini masih dapat diminimalkan. Para ahli menyarankan peningkatan aktivitas sosial dan fisik sebagai langkah penting untuk membantu perkembangan otak anak.
Beberapa kegiatan yang dianjurkan antara lain:
- Membaca bersama orang tua
- Bermain secara langsung (tatap muka)
- Berjalan-jalan di luar ruangan
- Terlibat dalam musik atau olahraga
Interaksi langsung sangat penting karena tidak hanya melatih kemampuan bahasa, tetapi juga membantu anak memahami emosi, ekspresi wajah, dan komunikasi dua arah.
Jika orang tua ingin mengenalkan perangkat digital, sebaiknya digunakan bersama anak sebagai sarana edukasi, bukan dibiarkan digunakan sendiri. Selain itu, seiring bertambahnya usia, interaksi dengan teman sebaya juga menjadi faktor penting dalam perkembangan sosial anak.
Kesimpulannya, meskipun paparan gawai sejak dini dapat berdampak pada perkembangan kognitif dan emosional anak, perubahan kebiasaan dan intervensi yang tepat masih dapat membantu memperbaiki dan mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal. ***