Bandung,
- Dinamika menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) VI DPD APDESI Kabupaten Bandung semakin menarik perhatian. Setelah pernyataan Ismawanto Somantri, calon Ketua DPD APDESI nomor urut 1, yang mengibaratkan kontestasi pemilihan sebagai pertarungan antara Pipit melawan Elang, tanggapan bijak datang dari kandidat nomor urut 2, H. Galih Hendrawan, S.IP., M.M.
Alih-alih membalas dengan pernyataan serupa, Galih justru memilih merespons dengan tenang. Ia tidak ingin terjebak dalam narasi siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih lemah. Baginya, kontestasi kepemimpinan APDESI bukan arena untuk membangun kesan superioritas, melainkan ruang demokrasi bagi seluruh kepala desa untuk menentukan pemimpin organisasinya.
"Terus terang, saya tidak merasa kuat seperti apa yang diibaratkan oleh beliau. Saya hanyalah kepala desa biasa yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Saya lahir dari keluarga sederhana. Jadi, tidak ada yang perlu dibesar-besarkan," ungkap Galih.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana Galih berusaha menempatkan dirinya secara sederhana di tengah dinamika persaingan. Ia tidak merasa perlu membangun citra sebagai sosok yang memiliki kekuatan besar. Menurutnya, setiap kandidat memiliki kedudukan yang sama dalam proses pemilihan dan setiap kepala desa mempunyai hak yang sama untuk menentukan pilihannya.
Terkait munculnya slogan MEGAH (Menangkan Galih Hendrawan), ia juga memberikan penjelasan secara proporsional. Menurutnya, slogan tersebut hanyalah ungkapan dukungan yang tidak perlu dimaknai sebagai simbol kemewahan, kekuasaan, ataupun kekuatan kelompok tertentu.
"Kalau memang ada slogan MEGAH, Menangkan Galih Hendrawan, itu hanya slogan biasa saja. Tidak ada kemewahan dan kekuatan apa-apa. Jangan sampai sebuah slogan kemudian dimaknai terlalu jauh," jelasnya.
Mengenai persoalan warna hijau dan kuning yang ikut menjadi perbincangan, Galih kembali menunjukkan sikap tidak ingin memperpanjang polemik. Ia memandang pilihan warna sebagai hak individual yang tidak semestinya menjadi persoalan dalam sebuah kontestasi organisasi.
"Saya rasa warna, baik hijau maupun kuning, itu hak individual masing-masing. Biarkan saja orang yang menilai. Yang pasti, dalam kontestasi pemilihan Ketua DPD APDESI Kabupaten Bandung ini, saya sama sekali tidak membawa warna dan tidak atas nama keluarga," tegasnya.
Lebih dari sekadar persoalan warna dan slogan, Galih ingin menempatkan Muscab VI APDESI sebagai momentum menjaga persatuan para kepala desa. Perbedaan pilihan, menurut semangat yang ia sampaikan, tidak seharusnya berubah menjadi sekat yang merusak hubungan persaudaraan maupun komunikasi antarkepala desa.
Sebab, siapa pun yang nantinya mendapatkan kepercayaan untuk memimpin APDESI, tanggung jawab yang diemban bukan hanya kepada kelompok pendukungnya, melainkan kepada seluruh kepala desa di Kabupaten Bandung. Organisasi harus tetap menjadi rumah bersama, tempat aspirasi diperjuangkan, persoalan pemerintahan desa dijembatani, dan kepentingan desa diperjuangkan tanpa membedakan latar belakang maupun pilihan politik organisasi.
Muscab VI DPD APDESI Kabupaten Bandung sendiri dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 6 November 2026, bertempat di Gedung Mohammad Toha, Kabupaten Bandung. Dua kandidat, Ismawanto Somantri sebagai nomor urut 1 dan H. Galih Hendrawan sebagai nomor urut 2, akan mengikuti proses pemilihan untuk menentukan kepemimpinan APDESI periode 2026-2031.
Menariknya, di tengah perumpamaan Pipit dan Elang, Galih justru memilih tidak menjadikan simbol tersebut sebagai bahan perdebatan. Sebab, dalam sebuah organisasi, kebesaran seorang pemimpin tidak semestinya diukur dari seberapa kuat dirinya dibandingkan orang lain, melainkan dari bagaimana ia menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Pada akhirnya, Muscab APDESI bukan tentang siapa yang paling besar, siapa yang paling berpengaruh, atau siapa yang paling banyak mendapatkan respons. Ini tentang kepercayaan, tanggung jawab, dan masa depan organisasi yang menjadi wadah seluruh kepala desa.
Karena kepemimpinan bukan tentang menjadi Elang di hadapan Pipit, melainkan bagaimana siapa pun yang dipercaya mampu merangkul semuanya. Perbedaan boleh ada, persaingan boleh berlangsung, tetapi persaudaraan antarkepala desa jangan sampai hilang hanya karena sebuah kontestas**