Bandung,
| Bagi Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Renie Rahayu Fauzi, kebersamaan bukan sekadar kata yang sering diucapkan di ruang rapat. Kebersamaan adalah energi yang menggerakkan, menyatukan perbedaan, dan yang akhirnya melahirkan tindakan nyata.
" Semangat itulah yang menjadi napas utama penyelenggaraan Pekan Olahraga (POR) DPRD Kabupaten Bandung Tahun 2026,".
POR DPRD 2026 yang akan digelar di SOR Jalak Harupat dan dibuka langsung oleh Bupati Bandung HM. Dadang Supriatna pada Selasa, 27/1/ 2026.
Merupakan sejarah di DPRD Kabupaten Bandung. Namun lebih dari sekadar kelanjutan agenda, kegiatan ini menjelma sebagai simbol kuat kekompakan seluruh pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Bandung.
POR DPRD ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang bagaimana kami, pimpinan dan anggota DPRD, berjalan bersama dalam satu semangat, ujar Renie dengan nada penuh makna.
Di tengah keterbatasan anggaran, DPRD Kabupaten Bandung memilih jalan kebersamaan. Tanpa menggunakan APBD, seluruh pembiayaan POR DPRD 2026 dipenuhi melalui rereongan atau gotong royong antar-komisi di DPRD. Bagi Reni, keputusan itu bukan hanya soal teknis anggaran, tetapi soal nilai dan teladan.
Kami ingin menunjukkan bahwa kebersamaan mampu melahirkan sesuatu yang besar. Ketika dikerjakan bersama, tidak ada yang terasa berat, tuturnya.
Lebih jauh, Reni menilai POR DPRD sebagai cermin bagaimana perbedaan latar belakang, fraksi, dan pandangan politik dapat melebur dalam satu tujuan. Di lapangan olahraga, sekat-sekat itu menghilang, digantikan oleh semangat sportivitas, persaudaraan, dan saling menguatkan.
POR DPRD 2026 juga dirancang menjadi ruang silaturahmi yang lebih luas. DPRD Kabupaten Bandung berencana mengundang DPRD dari kabupaten/kota lain untuk turut serta, mempererat jejaring dan rasa persaudaraan antarlembaga legislatif.
Kami ingin DPRD hadir bukan hanya sebagai lembaga yang bekerja dengan regulasi, tetapi juga sebagai contoh tentang bagaimana membangun kebersamaan di tengah perbedaan, kata Renie.
Bagi Renie Rahayu Fauzi, POR DPRD 2026 adalah pesan sunyi namun kuat kepada masyarakat Kabupaten Bandung: bahwa gotong royong masih hidup, bahwa persatuan masih mungkin dirawat, dan bahwa tidak ada yang mustahil ketika langkah disatukan.
Ini cara kami berbicara kepada masyarakat. Bahwa dengan kekompakan dan kebersamaan, kita bisa melangkah lebih jauh, pungkasnya. ***