03
AGUSTUS 2026 10:59 WIB
PENDIDIKAN 213 Kali Dilihat

UPI Matangkan Program "Museum Goes to School", Hadirkan Pembelajaran Sejarah Interaktif di SMP Prima Cendekia Islami

Asep Awing

Asep Awing

Pewarta

UPI Matangkan Program "Museum Goes to School", Hadirkan Pembelajaran Sejarah Interaktif di SMP Prima Cendekia Islami

BANDUNG, Logo | Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berkolaborasi dengan Museum Pendidikan Nasional UPI menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Kegiatan yang didanai oleh UPI tersebut berlangsung pada Senin, 3 Agustus 2026, di Gedung Museum Pendidikan Nasional UPI, Bandung.

FGD mempertemukan akademisi, pengelola museum, praktisi media, dan pendidik untuk mematangkan konsep Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Kepakaran Bidang Ilmu bertajuk "Museum Goes to School: Optimalisasi Koleksi Museum sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMP Prima Cendekia Islami."

Program ini dirancang sebagai inovasi pembelajaran yang menghadirkan pengalaman museum langsung ke lingkungan sekolah. Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan dapat lebih mengenal, mengapresiasi, dan memahami sejarah pendidikan Indonesia tanpa harus berkunjung ke museum.

FGD menghadirkan empat narasumber, yaitu Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum. (Ketua Tim PKM Pendidikan Sejarah FPIPS UPI), Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd. (Kepala Museum Pendidikan Nasional UPI), Beni Saputro, S.Pd., M.Pd. (Kepala SMP Prima Cendekia Islami), dan Billi Muhammad (Founder Rumah Media Indonesia).

Dalam pemaparannya, Ketua Tim PKM, Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum., menegaskan bahwa program ini lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran sejarah yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.

"Selama ini terdapat kesenjangan logistik dan psikologis antara siswa dan museum. Melalui program pengabdian kepada masyarakat ini, kami menghadirkan Museum Goes to School sebagai solusi. Kami membawa fragmen sejarah dari museum ke sekolah agar pengalaman belajar sejarah dapat dirasakan langsung oleh siswa di lingkungan belajarnya," ujarnya.

Program PKM ini dikemas secara komprehensif, mulai dari penyusunan materi pameran tematik, penyajian artefak portabel, hingga penerapan metode pembelajaran interaktif. Pendekatan tersebut bertujuan mengubah pandangan bahwa museum merupakan tempat yang kuno dan membosankan menjadi ruang belajar yang dinamis, komunikatif, menyenangkan, serta relevan dengan karakteristik generasi Z dan Alpha.

Sementara itu, Kepala Museum Pendidikan Nasional UPI, Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini merupakan implementasi fungsi museum sebagai laboratorium edukasi publik.

Menurutnya, banyak sekolah, terutama di wilayah pinggiran Bandung, masih menghadapi kendala biaya transportasi, akomodasi, dan keterbatasan waktu untuk mengunjungi museum.

"Museum Goes to School menghadirkan keadilan akses terhadap pembelajaran sejarah. Setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk melihat dan mempelajari bukti sejarah pendidikan bangsa tanpa harus terkendala perjalanan. Kami mengemas koleksi museum dalam bentuk pameran portabel yang aman, menarik, dan komunikatif," jelasnya.

Sebagai museum yang berfokus pada sejarah pendidikan Indonesia, Museum Pendidikan Nasional UPI menyiapkan berbagai koleksi untuk dibawa ke SMP Prima Cendekia Islami, mulai dari replika dan artefak pembelajaran tradisional hingga transisional, sabak, pena bulu, mesin ketik manual, buku dan rapor lama dengan ejaan Van Ophuijsen, hingga dokumentasi perkembangan seragam sekolah dari berbagai periode.

Untuk menyesuaikan dengan karakter pembelajaran era digital, pameran portabel tersebut juga akan dilengkapi teknologi interaktif. Tim IT Museum Pendidikan Nasional UPI mengintegrasikan kode QR pada setiap objek pameran sehingga siswa dapat mengakses konten multimedia, animasi tiga dimensi artefak, video edukatif, hingga kuis digital melalui gawai mereka.

Kepala SMP Prima Cendekia Islami Baleendah, Beni Saputro, S.Pd., M.Pd., menyambut baik kehadiran program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini selaras dengan pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan di sekolah.

"Kami sangat bangga dan berterima kasih kepada Program Studi Pendidikan Sejarah serta Museum Pendidikan Nasional UPI atas kepercayaan ini. Kami tidak hanya menyediakan ruang pameran, tetapi akan mengubah aula sekolah menjadi galeri edukasi sehingga siswa dapat belajar sejarah secara langsung melalui koleksi museum bersama para edukator dari UPI," ungkapnya.

Sesi FGD ditutup dengan pemaparan Billi Muhammad, Founder Rumah Media Indonesia, yang menekankan pentingnya memperkuat dampak program melalui strategi komunikasi digital.

Menurutnya, gaung program literasi sejarah tidak seharusnya berhenti di lingkungan sekolah, melainkan diperluas melalui media sosial agar menjangkau masyarakat yang lebih luas.

"Momentum ini harus didokumentasikan dengan baik. Pameran fisik memang memiliki keterbatasan ruang dan waktu, tetapi jejak digitalnya dapat menjangkau jutaan pelajar di seluruh Indonesia. Kami akan mengemas cerita di balik setiap koleksi museum melalui video pendek, storytelling, Instagram Reels, hingga konten TikTok yang menarik bagi generasi muda," ujarnya.

Ia berharap, publikasi digital tersebut dapat menjadikan Museum Goes to School sebagai inspirasi bagi museum-museum lain di Indonesia untuk mengembangkan kemitraan serupa dengan sekolah, sehingga akses pembelajaran sejarah semakin luas dan inklusif. ***

Tinggalkan Komentar

1000 Karakter tersisa

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!