| Milangkala Tatar Sunda kerap dimaknai sebagai peringatan ulang tahun atau menghitung waktu (Milang: menghitung, Kala: waktu) berdirinya entitas wilayah Pasundan.
Namun, memaknai Tatar Sunda hanya sebatas peringatan kultural administratif pasca-1600 Masehi adalah penyederhanaan sejarah. Tatar Sunda sesungguhnya adalah sebuah entitas geobudaya--wilayah yang membentuk kebudayaan--yang akar sejarahnya jauh lebih dalam, menembus kabut waktu hingga masa Tarumanagara dan bahkan sebelumnya.
1. Asal-Usul Istilah: Sunda Bukan Sekadar Suku
Secara geopolitik dan geografi sejarah, istilah "Sunda" sudah dikenal oleh dunia internasional jauh sebelum entitas administratif modern terbentuk. Claudius Ptolemaeus, ahli geografi Yunani kuno, sudah mencatat adanya kepulauan Sunda di timur India pada tahun 150 M.
Dalam pandangan geologi, terdapat Paparan Sunda (Sundaland) yang mencakup wilayah yang sangat luas. Portugis di abad ke-16 bahkan menyebut wilayah barat Nusantara sebagai Soenda Mayor (Sunda Besar) dan timur sebagai Soenda Minor (Sunda Kecil).
Ini membuktikan bahwa Sunda adalah entitas geografi (land) yang kemudian melahirkan entitas budaya. Kebudayaan Sunda ada karena adanya land (tanah) Sunda itu sendiri, mencakup Banten, Jawa Barat, Jakarta, hingga bagian barat Jawa Tengah.
2. Akar Sejarah: Melampaui Batas Tahun 1600
Peringatan Milangkala yang berfokus pada tahun 1600-an sering kali melewatkan fakta bahwa struktur pemerintahan dan kebudayaan Sunda sudah tersusun rapi jauh sebelumnya.
Zaman Tarumanagara (Abad ke-4-7 M): Ini adalah pondasi awal. Prasasti-prasasti membuktikan peradaban Sunda sudah mapan, bahkan mahkota kerajaan yang sangat disakralkan, Mahkota Binokasih (Sanghyang Pake), berasal dari masa peradaban Tarumanagara/Galuh.
Kerajaan Sunda - Pajajaran (Abad ke-10-16 M):
Melanjutkan kejayaan sebelumnya, dengan puncak penyatuan di masa Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi).
Tatar Sunda adalah warisan berkesinambungan, bukan entitas baru yang lahir di abad ke-17.
3. Pionir Siliwangi: Peran Tanah Sancang (Garut)
Salah satu fakta sejarah yang krusial namun sering terabaikan adalah posisi Tanah Sancang di Kabupaten Garut. Tanah Sancang bukan sekadar wilayah pesisir, melainkan saksi sejarah perjalanan spiritual dan pemerintahan Prabu Siliwangi.
Di tanah Sancang inilah, Prabu Siliwangi--sebagai sosok raja bijaksana (Siliwangi Pamendah Rasa)--menjalankan konsolidasi awal peradaban yang kemudian melahirkan kebesaran Pajajaran. Sancang adalah bukti bahwa kepemimpinan Pajajaran berakar dari pemahaman tanah, rakyat, dan spiritualitas, menjadikannya pionir bagi pemersatu wilayah Tatar Sunda.
4. Makna Milangkala: "Nyuhun Buhun, Nata Nagara"
Milangkala Tatar Sunda (yang sering diperingati dengan semangat Nyuhun Buhun, Nata Nagara--menjunjung warisan leluhur, menata negara) harus menjadi momentum untuk:
Mengakui Sunda sebagai Entitas Geobudaya: Menegaskan bahwa kebudayaan Sunda tumbuh dari kesatuan wilayah (land) yang kuat.
Meluruskan Sejarah: Mengakui peran krusial Tarumanagara dan Tanah Sancang (Garut) sebagai pusat awal sejarah Pajajaran.
Sauyunan: Menghidupkan kembali nilai luhur peradaban masa lalu sebagai landasan masa kini.
Dengan demikian, Milangkala Tatar Sunda adalah napak tilas sejarah, dari Tanah Sancang hingga puncak kejayaan Pakuan Pajajaran, sebuah entitas yang lebih besar dari sekadar batas administratif. ***